Selamat Datang Di Web Rumah Sedekah Sahabat, Akta Notaris : Cahya Suryana SH. No. 01-2 April 2008, Alamat : Komp. Taman Cileunyi Blok Q No. 3 RT 01/22, Desa Cileunyi Kulon, Kec. Cileunyi, Kab. Bandung RUMAH SEDEKAH SAHABAT: hadits
Tampilkan postingan dengan label hadits. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label hadits. Tampilkan semua postingan

Senin, 14 April 2014

Hadits Bukhori ke 47 "Keutamaan Melayat dan Shalat Jenazah"

Alhamdulillah, kita kembali bertemu dalam rubrik Hadits yang kini memasuki pembahasan hadits ke-47 dalam Shahih Bukhari, masih berada di bawah Kitab Al-Iman (كتاب الإيمان).

Imam Bukhari memberi judul hadits ini باب اتِّبَاعُ الْجَنَائِزِ مِنَ الإِيمَانِ (Melayat jenazah adalah sebagian dari iman). 

Berikut ini matan (redaksi) hadits Shahih Bukhari ke-47:

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ - صلى الله عليه وسلم - قَالَ مَنِ اتَّبَعَ جَنَازَةَ مُسْلِمٍ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا ، وَكَانَ مَعَهُ حَتَّى يُصَلَّى عَلَيْهَا ، وَيَفْرُغَ مِنْ دَفْنِهَا ، فَإِنَّهُ يَرْجِعُ مِنَ الأَجْرِ بِقِيرَاطَيْنِ ، كُلُّ قِيرَاطٍ مِثْلُ أُحُدٍ ، وَمَنْ صَلَّى عَلَيْهَا ثُمَّ رَجَعَ قَبْلَ أَنْ تُدْفَنَ فَإِنَّهُ يَرْجِعُ بِقِيرَاطٍ 
Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, "Barangsiapa melayat jenazah muslim karena iman dan ikhlas, ia menyertainya hingga shalat jenazah dan menyelenggarakan pemakamannya, maka dia membawa pahala dua qirath, satu qirath semisal bukit uhud. Dan barangsiapa ikut shalat jenazah kemudian pulang sebelum jenazah itu dimakamkan, maka ia membawa pulang pahala satu qirath.

Penjelasan Hadits

مَنِ اتَّبَعَ جَنَازَةَ مُسْلِمٍ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا
Barangsiapa melayat jenazah muslim karena iman dan ikhlas
Inilah syarat diterimanya semua amal. Inilah syarat yang menjadikan sebuah amal bisa memperoleh keutamaan atau fadhilah. Bahwa amal itu harus ikhlas, dilandasi iman, lillah. Termasuk, dalam bab melayat jenazah.

Seperti dibahas pada hadits-hadits sebelumnya, ihtisaban makna awalnya adalah mengharap perhitungan (pahala). Maksudnya sama dengan ikhlas. Dan karenanya jika ada orang mengerjakan amal karena ingin mendapatkan pahala dari Allah, itu berarti ikhlas. Tidak seperti yang dikatakan sebagian sufi bahwa siapa yang mengerjakan amal dengan masih berharap pahala/balasan berarti ia belum ikhlas.

Di sini pula korelasi antara iman dan amal. Bahwa iman itu tidak cukup dengan keyakinan hati tetapi harus diikuti dengan amal. Sebaliknya, amal saja tanpa diikuti dengan keyakikan hati tidak akan bernilai di sisi Allah. Sehingga Imam Bukhari mengatakan, melayat jenazah adalah bagian dari iman. Artinya, jika seorang muslim selalu mengerjakan amal ini (melayat jenazah), imannya pada bagian ini sempurna. Tetapi jika ia tidak pernah melayat jenazah tanpa udzur syar'i maka imannya berkurang.

وَكَانَ مَعَهُ حَتَّى يُصَلَّى عَلَيْهَا ، وَيَفْرُغَ مِنْ دَفْنِهَا
ia menyertainya hingga shalat jenazah dan menyelenggarakan pemakamannya,

Seperti dijelaskan dalam hadits mengenai hak muslim, salah satunya haknya adalah diiringi jenazahnya ketika ia meninggal. Mengiringi jenazah artinya mengantarkannya sampai dimakamkan, termasuk menshalatinya sebelum dimakamkan. Shalat jenazah merupakan salah satu fardhu kifayah, sehingga secara umum seseorang yang mengiringi jenazah dan menshalatinya akan mendapatkan pahala fardhu kifayah tersebut. Berapa besarnya? Kalimat Rasulullah berikutnya akan menjelaskan kepada kita.

فَإِنَّهُ يَرْجِعُ مِنَ الأَجْرِ بِقِيرَاطَيْنِ ، كُلُّ قِيرَاطٍ مِثْلُ أُحُدٍ
maka dia membawa pahala dua qirath, satu qirath semisal bukit uhud
Inilah pahala melayat jenazah, menshalati dan memakamkannya. Jika ketiganya dilakukan oleh seorang muslim, maka muslim tersebut mendapatkan pahala dua qirath, semisal dua bukit uhud.

وَمَنْ صَلَّى عَلَيْهَا ثُمَّ رَجَعَ قَبْلَ أَنْ تُدْفَنَ فَإِنَّهُ يَرْجِعُ بِقِيرَاطٍ
Dan barangsiapa ikut shalat jenazah kemudian pulang sebelum jenazah itu dimakamkan, maka ia membawa pulang pahala satu qirath
Adakalanya seorang muslim hanya sempat melayat dan ikut shalat jenazah tetapi tidak bisa mengantarkannya ke pemakaman. Untuk golongan yang seperti ini, dia mendapatkan pahala satu qirath, yaitu semisal satu bukit Uhud.

Pelajaran Hadits
Pelajaran yang bisa diambil dari hadits ini diantaranya adalah:
1. Melayat jenazah (sebagaimana amal yang lain seperti shalat, puasa dan jihad) adalah sebagian dari iman
2. Ikhlas adalah syarat diterimanya segala amal dan syarat mendapatkan keutamaan amal tersebut
3. Mengiringi jenazah (termasuk menshalatinya) adalah hak muslim ketika ia meninggal yang harus ditunaikan juga termasuk fardhu kifayah
4. Keutamaan melayat jenazah, menshalati dan ikut memakamkannya adalah mendapatkan pahala dua qirath (seperti dua bukit Uhud)
5. Jika hanya melayat dan menshalati jenazah tanpa ikut memakamkannya, pahalanya sebesar satu qirath (seperti satu bukit Uhud)

Demikian hadits ke-47 Shahih Bukhari dan penjelasannya. Semoga kita dimudahkan Allah untuk senantiasa menjaga iman dengan memperbanyak amal dan menunaikan hak-hak saudara kita, termasuk melayat dan shalat jenazah ketika saudara kita meninggal. Wallaahu a'lam bish shawab.[]

sumber : http://www.bersamadakwah.com/2013/04/hadits-47-keutamaan-melayat-dan-shalat.html

Minggu, 13 April 2014

Hadits Bukhori ke 46 "Mengerjakan yang Wajib itu Beruntung, Menambah dengan yang Sunnah Lebih Beruntung"

Alhamdulillah, kita kembali bertemu dalam rubrik Hadits yang kini memasuki pembahasan hadits ke-46 dari Shahih Bukhari, masih berada di bawah Kitab Al-Iman (كتاب الإيمان). Imam Bukhari memberikan judul untuk hadits ini "Bab Zakat adalah Sebagian dari Islam" karena kewajiban yang lain (puasa dan zakat) yang disebut pada hadits ini sudah dibahas pula pada hadits-hadits sebelumnya.

Di bagian akhir matan hadits ini ada jaminan dari Rasulullah bagi orang yang mengerjakan kewajiban tanpa menguranginya sebagai orang yang beruntug, maka pembahasan hadits ke-46 ini diberi judul "Mengerjakan yang Wajib itu Beruntung, Menambah dengan yang Sunnah Lebih Beruntung" 

Berikut ini matan (redaksi) hadits Shahih Bukhari ke-46:

عَنْ طَلْحَةَ بْنَ عُبَيْدِ اللَّهِ يَقُولُ جَاءَ رَجُلٌ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ - صلى الله عليه وسلم - مِنْ أَهْلِ نَجْدٍ ، ثَائِرُ الرَّأْسِ ، يُسْمَعُ دَوِىُّ صَوْتِهِ ، وَلاَ يُفْقَهُ مَا يَقُولُ حَتَّى دَنَا ، فَإِذَا هُوَ يَسْأَلُ عَنِ الإِسْلاَمِ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ - - صلى الله عليه وسلم - خَمْسُ صَلَوَاتٍ فِى الْيَوْمِ وَاللَّيْلَةِ. فَقَالَ هَلْ عَلَىَّ غَيْرُهَا قَالَ لاَ ، إِلاَّ أَنْ تَطَوَّعَ. قَالَ رَسُولُ اللَّهِ - صلى الله عليه وسلم - وَصِيَامُ رَمَضَانَ. قَالَ هَلْ عَلَىَّ غَيْرُهُ قَالَ لاَ ، إِلاَّ أَنْ تَطَوَّعَ . قَالَ وَذَكَرَ لَهُ رَسُولُ اللَّهِ - صلى الله عليه وسلم - الزَّكَاةَ . قَالَ هَلْ عَلَىَّ غَيْرُهَا قَالَ لاَ ، إِلاَّ أَنْ تَطَوَّعَ . قَالَ فَأَدْبَرَ الرَّجُلُ وَهُوَ يَقُولُ وَاللَّهِ لاَ أَزِيدُ عَلَى هَذَا وَلاَ أَنْقُصُ . قَالَ رَسُولُ اللَّهِ - صلى الله عليه وسلم - أَفْلَحَ إِنْ صَدَقَ
Dari Thalhah bin Ubaidillah, bahwa seorang laki-laki Najd datang kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dengan kepala penuh debu. Kami mendengar suaranya tetapi tidak mengerti apa yang ia ucapkan, hingga ia mendekat kepada Rasulullah. Kemudian dia menanyakan tentang Islam. Maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, "Shalat lima waktu dalam sehari semalam." Kemudian ia bertanya, "Apakah ada lagi selain itu?" Rasulullah pun menjawab, "Tidak. Kecuali jika engkau suka mengerjakan shalat sunnah." Kemudian Rasulullah meneruskan ucapannya, “Dan puasa Ramadhan.” Orang tersebut bertanya lagi, “Adakah selain itu?” Nabi menjawab, “Tidak, kecuali engkau mau berpuasa sunnah.” Kemudian Rasulullah menyebutkan, “Dan zakat.” Orang tersebut bertanya lagi, “Adakah selain itu?” Rasulullah pun menjawab, “Tidak, kecuali engkau suka berbuat sunnah.” Kemudian orang itu pergi sambil berkata, “Demi Allah, tidak akan kutambah dan kukurangi apa yang engkau sebutkan itu.” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Dia pasti beruntung jika ia benar-benar menepati perkataannya.”

Penjelasan Hadits

جَاءَ رَجُلٌ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ - صلى الله عليه وسلم - مِنْ أَهْلِ نَجْدٍ ، ثَائِرُ الرَّأْسِ 
seorang laki-laki Najd datang kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dengan kepala penuh debu

Laki-laki dari Najd tersebut, menurut Ibnu Bathal dan lainnya adalah Dhammam bin Tsa’labah, seorang utusan Bani Sa’ad bin Bakar. Mereka berpendapat berdasarkan hadits senada yang diriwayatkan Muslim. Namun, Imam Qurthubi menolak pendapat itu dengan alasan haditsnya berbeda.

Tsa’irar ra’si (dengan kepala penuh debu), artinya adalah rambutnya kusut, tidak teratur dan berdebu, menandakan dari perjalanan jauh.


يُسْمَعُ دَوِىُّ صَوْتِهِ ، وَلاَ يُفْقَهُ مَا يَقُولُ 
Kami mendengar suaranya tetapi tidak mengerti apa yang ia ucapkan

Dawiyun , menurut Al Khatabi, adalah suara yan keras dan diulang-ulang, tetapi tidak dapat dipahami karena berasal dari tempat yang jauh.


حَتَّى دَنَا ، فَإِذَا هُوَ يَسْأَلُ عَنِ الإِسْلاَمِ 
hingga ia mendekat kepada Rasulullah. Kemudian dia menanyakan tentang Islam

Orang tersebut bertanya tentang Islam, maksudnya adalah syariat Islam yang fi’liyah; syari’at fi’liyah (ajaran Islam yang bersifat perbuatan). Karenanya Rasulullah tidak menyebutkan syahadat. Sedangkan haji tidak disebutkan, bisa dimungkinkan dua hal. Pertama, pada saat itu haji belum disyariatkan. Kedua, hadits tersebut diringkas oleh perawi. Kemungkinan kedua dikuatkan oleh Ibnu Hajar Al Asqalani karena ada hadits lain yang juga dikeluarkan Imam Bukhari (bab Shiyam) menyebutkan amal-amal lainnya.


خَمْسُ صَلَوَاتٍ فِى الْيَوْمِ وَاللَّيْلَةِ. فَقَالَ هَلْ عَلَىَّ غَيْرُهَا قَالَ لاَ ، إِلاَّ أَنْ تَطَوَّعَ
"Shalat lima waktu dalam sehari semalam." Kemudian ia bertanya, "Apakah ada lagi selain itu?" Rasulullah pun menjawab, "Tidak. Kecuali jika engkau suka mengerjakan shalat sunnah."

Rasulullah menyebutkan kewajiban shalat lima waktu, yaitu Dzuhur, Ashar, Magrib, Isya’ dan Subuh. Namun orang tersebut ingin memastikan apakah hanya itu. Rasulullah pun kemudian memberitahukan, jika ingin shalat sunnah selain shalat fardlu tersebut, maka shalat sunnah itu menjadi tambahan pahala baginya. 


وَصِيَامُ رَمَضَانَ. قَالَ هَلْ عَلَىَّ غَيْرُهُ قَالَ لاَ ، إِلاَّ أَنْ تَطَوَّعَ 
“Dan puasa Ramadhan.” Orang tersebut bertanya lagi, “Adakah selain itu?” Nabi menjawab, “Tidak, kecuali engkau mau berpuasa sunnah.”

Rasulullah menyebutkan kewajiban berpuasa di bulan Ramadhan. Namun orang tersebut ingin memastikan apakah hanya itu. Rasulullah pun kemudian memberitahukan, jika ingin puasa sunnah selain puasaa Ramadhan, maka puasa sunnah itu menjadi tambahan pahala baginya. 


الزَّكَاةَ . قَالَ هَلْ عَلَىَّ غَيْرُهَا قَالَ لاَ ، إِلاَّ أَنْ تَطَوَّعَ
Kemudian Rasulullah menyebutkan, “Dan zakat.” Orang tersebut bertanya lagi, “Adakah selain itu?” Rasulullah pun menjawab, “Tidak, kecuali engkau suka berbuat sunnah.”

Rasulullah menyebutkan kewajiban zakat, yang tentu saja telah mencapai nishab dan haul. Namun orang tersebut ingin memastikan apakah hanya itu. Rasulullah pun kemudian memberitahukan, jika ingin berinfaq sunnah, maka infaq sunnah/sedekah itu menjadi tambahan pahala baginya. 


فَأَدْبَرَ الرَّجُلُ وَهُوَ يَقُولُ وَاللَّهِ لاَ أَزِيدُ عَلَى هَذَا وَلاَ أَنْقُصُ . قَالَ رَسُولُ اللَّهِ - صلى الله عليه وسلم - أَفْلَحَ إِنْ صَدَقَ
Kemudian orang itu pergi sambil berkata, “Demi Allah, tidak akan kutambah dan kukurangi apa yang engkau sebutkan itu.” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Dia pasti beruntung jika ia benar-benar menepati perkataannya.”

Orang itupun pergi dengan bersumpah bahwa ia hanya akan mengerjakan kewajiban-kewajiban tersebut, tanpa menambah dan menguranginya.

Meskipun orang tersebut tidak mengerjakan amal-amal sunnah yang menjadi tambahan baginya, melaksanakan yang wajib tanpa menguranginya akan membuat dia beruntung. Sebaliknya, jika ia tidak menepati apa yang ia lakukan, dalam arti mengurangi kewajban-kewajiban tersebut, maka ia akan merugi. Imam Nawawi menjelaskan, jika dengan memenuhi/mengerjakan yang wajib saja seseorang akan beruntung. Maka bagi seseorang yang memenuhi kewajiba serta menjalankan yang sunnah, niscaya ia akan lebih beruntung.

Pelajaran Hadits
Pelajaran yang bisa diambil dari hadits ini diantaranya adalah:
1. Rasulullah senantiasa memberikan kesempatan kepada para sahabat untuk belajar dan mempersilakan mereka untuk bertanya;
2. Diantara syariat fi’liyah yang wajib adalah shalat lima waktu, puasa Ramadhan dan zakat. 
3. Ibadah wajib harus dikerjakan 
4. Ibadah sunnah –seperti shalat sunnah, puasa sunnah dan sedekah- merupakan tambahan pahala bagi yang mengerjakannya
5. Orang yang telah mengerjakan hal yang wajib tanpa menguranginya adalah orang yang beruntung. Sedangkan orang yang mengerjakan hal yang wajib tanpa pengurangan, malah ditambah dengan hal yang sunnah adalah oran yang lebih beruntung lagi. 

Demikian hadits ke-46 Shahih Bukhari dan penjelasannya. Semoga kita mendapatkan taufiq dari Allah SWT untuk senantiasa menjalankan yang wajib dan mengerjakan yang sunnah. Wallaahu a'lam bish shawab.[]

sumber : http://www.bersamadakwah.com/2013/02/hadits-46-mengerjakan-yang-wajib-itu.html

Sabtu, 12 April 2014

Hadits Bukhori ke 45 "Kesempurnaan Islam"

Alhamdulillah, kita kembali bertemu dalam rubrik Hadits yang kini memasuki pembahasan hadits ke-45 dari Shahih Bukhari, masih berada di bawah Kitab Al-Iman (كتاب الإيمان). Karena di dalam hadits ke-45 ini disebutkan surat Al Maidah ayat 3 yang menjelaskan tentang kesempurnaan Islam, maka pembahasan hadits ini diberi judul "Kesempurnaan Islam" 

Berikut ini matan (redaksi) hadits Shahih Bukhari ke-45:

عَنْ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ أَنَّ رَجُلاً مِنَ الْيَهُودِ قَالَ لَهُ يَا أَمِيرَ الْمُؤْمِنِينَ ، آيَةٌ فِى كِتَابِكُمْ تَقْرَءُونَهَا لَوْ عَلَيْنَا مَعْشَرَ الْيَهُودِ نَزَلَتْ لاَتَّخَذْنَا ذَلِكَ الْيَوْمَ عِيدًا . قَالَ أَىُّ آيَةٍ قَالَ ( الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِى وَرَضِيتُ لَكُمُ الإِسْلاَمَ دِينًا ) . قَالَ عُمَرُ قَدْ عَرَفْنَا ذَلِكَ الْيَوْمَ وَالْمَكَانَ الَّذِى نَزَلَتْ فِيهِ عَلَى النَّبِىِّ - صلى الله عليه وسلم - وَهُوَ قَائِمٌ بِعَرَفَةَ يَوْمَ جُمُعَةٍ
Dari Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu bahwa ada seorang Yahudi yang berkata kepadanya, “Wahai Amirul Mukminin, ada sebuah ayat dalam kitab kalian yang jika diturunkan kepada kami, maka kami akan menjadikan hari turunnya ayat itu sebagai hari raya.” Umar pun bertanya, “Ayat manakah yang kau maksud?” Orang itu menjawab, “Pada hari ini telah Kusempurnakan untukmu agamamu, telah Kucukupkan kepadamu nikmatKu dan Kuridhai Islam sebagai agamamu.” Umar berkata, “Kami tahu hari dan tempat diturunkan ayat tersebut kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, yaitu pada saat beliau berada di Arafa pada hari Jum’at.”

Penjelasan Hadits

أَنَّ رَجُلاً مِنَ الْيَهُودِ
Bahwa ada seorang laki-laki Yahudi
Menurut Imam Ath Thabari dan Imam Thabrani, seorang Yahudi pada hadits di atas adalah Ka’ab Al Ahbar. Jika hadits ini dikompromikan dengan hadits lainnya, yakni pada kitab Maghazi nantinya, pada saat itu yang menemui Umar adalah sekelompok Yahudi, lalu Ka’ab Al Ahbar menjadi wakil/juru bicaranya.

يَا أَمِيرَ الْمُؤْمِنِينَ ، آيَةٌ فِى كِتَابِكُمْ تَقْرَءُونَهَا لَوْ عَلَيْنَا مَعْشَرَ الْيَهُودِ نَزَلَتْ لاَتَّخَذْنَا ذَلِكَ الْيَوْمَ عِيدًا
Wahai Amirul Mukminin, ada sebuah ayat dalam kitab kalian yang jika diturunkan kepada kami, maka kami akan menjadikan hari turunnya ayat itu sebagai hari raya

Maksud “akan kami jadikan” (لاَتَّخَذْنَا) adalah mengagungkan hari tersebut dan menjadikannya sebagai hari raya. Sebab hari itu agama telah disempurnakan oleh Allah. 

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِى وَرَضِيتُ لَكُمُ الإِسْلاَمَ دِينًا
Pada hari ini telah Kusempurnakan untukmu agamamu, telah Kucukupkan kepadamu nikmatKu dan Kuridhai Islam sebagai agamamu

Inilah ayat yang menjelaskan bahwa Islam telah disempurnakan Allah. Inilah ayat yang menegaskan kesempurnaan Islam. Yaitu surat Al Maidah ayat 3. Kesempurnaan Islam ini adalah nikmat yang sangat besar, sehingga orang Yahudi menyarankan menjadikan hari itu sebagai hari raya yang diperingati, diingat dan disyukuri.

Menjelaskan ayat ini, Ibnu Katsir di dalam tafsirnya mengatakan, "Ini merupakan nikmat Allah yang paling besar kepada umat ini, karena Allah telah menyempurnakan bagi mereka agama mereka; mereka tidak memerlukan lagi agama yang lain, tidak pula memerlukan nabi yang lain."

Ibnu Abbas berkata mengenai ayat ini, "Allah Subhanahu wa Ta'ala memberitahukan kepada Nabi-Nya dan orang-orang mukmin bahwa Dia telah menyempurnakan Islam untuk mereka, karena itu Islam tidak memerlukan tambahan lagi selamanya. Allah telah mencukupkannya dan tidak akan menguranginya. Dan Allah telah ridha kepadanya, maka Dia tidak akan pernah membencinya."

Sayyid Quthb di dalam tafsir Fi Zhilalil Qur'an menjelaskan bahwa dalam berinteraksi dengan ayat ini, orang-orang yang beriman harus memiliki tiga sikap:

Pertama, ia meyakini kesempurnaan Islam, bahwa Islam tidak memiliki kekurangan. Syariat Islam berlaku untuk semua manusia, di semua tempat dan segala zaman. Kesempurnaan iman adalah dengan menjalankan seluruh syariat Islam yang sempurna ini.

Kedua, ia menyadari nikmat besar berupa Islam dan iman. Nikmat besar itulah yang menjamin eksistensinya sebagai manusia. Tanpa membebaskan diri dari segala sesembahan sehingga hanya menyembah Allah serta menjadikan syariat Islam sebagai peraturan hidupnya, tanpa itu, ia sesungguhnya tidak memiliki eksistensi sebagai manusia.

Ketiga, ia ridha kepada Islam yang telah diridhai oleh Allah. Ia menyadari bahwa orang-orang yang beriman adalah orang yang telah dipilih Allah, dan dengan kesadaran itu ia berupaya istiqamah dengan segenap kemampuan dan kekuatan.

ذَلِكَ الْيَوْمَ وَالْمَكَانَ الَّذِى نَزَلَتْ فِيهِ عَلَى النَّبِىِّ - صلى الله عليه وسلم - وَهُوَ قَائِمٌ بِعَرَفَةَ يَوْمَ جُمُعَةٍ
Kami tahu hari dan tempat diturunkan ayat tersebut kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, yaitu pada saat beliau berada di Arafah pada hari Jum’at

Mungkin sebagian orang berpikir bahwa jawaban Umar tidak ada hubungannya dengan kata-kata Ka’ab Al Ahbar. Padahal jawaban Umar tersebut justru menyatakan bahwa umat Islam bahwa hari turunnya ayat tersebut justru bertepatan dengan dua hari raya. Bukan hanya satu. Yakni hari Jum’at dan hari Arafah.

Pada riwayat Thabrani, ada tambahan tegas: (wahumaa ‘iidaanan)“dan keduanya adalah hari raya”. Sedangkan pada riwayat Tirmidzi memakai lafadz, “Seorang Yahudi menanyakan tentang hal tersebut, maka dia berkata, ‘Ayat tersebut turun pada dua hari raya, yaitu hari Jum’at dan hari Arafah.

As-Sadi menguatkan bahwa setelah turunnya ayat tersebut tak ada lagi ayat halal dan haram sesudahnya.

Lalu apa korelasi hadits ini dengan iman yang menjadi judul kitab ini? Atau, mengapa Imam Bukhari memasukkan hadits ini ke dalam kitab iman, bahkan dalam judul bab bertambah dan berkurangya iman? Sebab, Islam yang telah sempurna, jika ia diyakini dan dijalankan seluruhnya, berarti pelakunya telah mencapai iman yang sempurna. Jika ada bagian dalam syariat Islam yang tidak dijalaninya, maka imannya juga berkurang sebanding dengan apa yang ia langgar.

Pelajaran Hadits
Pelajaran yang bisa diambil dari hadits ini diantaranya adalah:
1. Islam telah mencapai kesempurnaan, Islam adalah agama yang sempurna. Allah Ta'ala menjaminnya melalui surat Al Maidah ayat 3;
2. Ketika seluruh ajaran Islam diyakini dan diamalkan, itulah kondisi iman yang sempurna. Sedangkan jika ada hal yang tidak dijalankan, imannya berkurang sesuai dengan kadar yang ia tinggalkan;
3. Orang Yahudi un mengetahui bahwa Islam adalah agama yang sempurna;
4. Ayat tentang kesempurnaan Islam (QS. Al Maidah : 3) diturunkan Allah pada haji wada' di hari Arafah bertepatan dengan hari Jumat;
5. Hari Arafah adalah bagian dari hari raya Idul Adha, sedangkan hari Jum'at adalah hari raya pekanan bagi umat Islam.

Demikian hadits ke-45 Shahih Bukhari dan penjelasannya. Semoga kita mendapatkan taufiq dari Allah Subhanahu wa Ta'ala untuk senantiasa berupaya menyempurnakan iman sebagaimana kesempurnaan Islam. Wallaahu a'lam bish shawab.[]

sumber : http://www.bersamadakwah.com/2013/02/hadits-45-kesempurnaan-islam.html

Jumat, 11 April 2014

Hadits Bukhori ke 44 "Mukmin Pasti Masuk Surga"

Alhamdulillah, kita kembali bertemu dalam rubrik Hadits yang kini memasuki pembahasan hadits ke-44 dalam Shahih Bukhari, masih berada di bawah Kitab Al-Iman (كتاب الإيمان).

Imam Bukhari memberi judul hadits ini باب زِيَادَةِ الإِيمَانِ وَنُقْصَانِهِ (Bertambah dan berkurangnya iman). Karena di dalam hadits ini disebutkan ada iman yang setingkat sya'iirah, ada yang setingkat burrah, dan ada pula yang setingkat dzarrah. Jika kemudian pembahasan hadits ke-44 ini diberi judul "Mukmin Pasti Masuk Surga" karena tingkat manapun dari ketiganya, semuanya akan dikeluarkan Allah dari neraka, yang berarti juga akan dimasukkan Allah ke dalam surga. 

Berikut ini matan (redaksi) hadits Shahih Bukhari ke-44:

عَنْ أَنَسٍ عَنِ النَّبِىِّ - صلى الله عليه وسلم - قَالَ يَخْرُجُ مِنَ النَّارِ مَنْ قَالَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ ، وَفِى قَلْبِهِ وَزْنُ شَعِيرَةٍ مِنْ خَيْرٍ ، وَيَخْرُجُ مِنَ النَّارِ مَنْ قَالَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ ، وَفِى قَلْبِهِ وَزْنُ بُرَّةٍ مِنْ خَيْرٍ ، وَيَخْرُجُ مِنَ النَّارِ مَنْ قَالَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ ، وَفِى قَلْبِهِ وَزْنُ ذَرَّةٍ مِنْ خَيْرٍ 
Dari Anas radhiyallaahu 'anhu bahwa Nabi shallallaahu 'alaihi wasallam bersabda: "Akan dikeluarkan dari neraka orang yang mengucapkan laa ilaaha illallah dan dalam hatinya ada kebaikan (iman) seberat sya'irah. Dan akan dikeluarkan dari neraka orang yang mengucapkan laa ilaaha illallah dan dalam hatinya ada kebaikan (iman) seberat burrah. Dan akan dikeluarkan dari neraka orang yang mengucapkan laa ilaaha illallah dan dalam hatinya ada kebaikan (iman) seberat dzarrah."

Penjelasan Hadits


يَخْرُجُ مِنَ النَّارِ مَنْ قَالَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ ، وَفِى قَلْبِهِ وَزْنُ شَعِيرَةٍ مِنْ خَيْر
Akan dikeluarkan dari neraka orang yang mengucapkan laa ilaaha illallah dan dalam hatinya ada kebaikan (iman) seberat sya'irah.

Sungguh, hadits ini menunjukkan betapa Allah Subhanahu wa Ta'ala itu maha penyayang (Ar-Rahim). Jika Ar-Rahman berarti Allah Maha Pemurah yang memberikan rezeki dan nikmat kepada seluruh manusia dan makhlukNya, tanpa peduli apakah ia beriman atau kafir, muslim ataupun non muslim. Sedangkan Ar-Rahim berarti Allah Maha Penyayang kepada orang-orang beriman. Diantara bentuk kasih sayang Allah kepada hambaNya yang mukmin adalah dikeluarkannya mereka dari neraka, sekecil apapun iman mereka. Di sinilah berlaku ketentuan Allah bahwa mukmin itu tidak akan keka di neraka, bahwa mukmin itu pasti masuk surga. 

Yang perlu diingat dan diperhatikan, kita tidak meremehkan neraka. Jangan karena ketentuan itu lalu kita mudah bermaksiat kepada Allah seraya beralasan "toh nantinya masuk surga juga", atau seperti kata sebagian orang "tidak apa masuk neraka sebentar." Sebentar? Sebentar apanya? Tahukah kita betapa lama perhitungan waktu di akhirat? Dan kalaupun sebentar, siapa yang tahan dengan siksa neraka sementara yang paling ringan saja adalah bara neraka ketika diinjak kaki maka otak pun ikut mendidih. Hadits ini memberikan rasa optimis (tafa'ul) dan harap (raja') kepada orang beriman untuk masuk surga, tanpa menghilangkan rasa takut (khauf) kepada neraka.

Dalam hadits ini digunakan kata "khair" untuk menyatakan "iman." Hal seperti ini juga menjadi dalil bahwa iman itu bukan hanya perkara keyakinan hati, tetapi juga menuntut manifestasi amal. Seperti dijelaskan dalam hadits-hadits sebelumnya bahwa puasa bagian dari iman, jihad bagian dari iman, dan sebagainya.

Disebutkannya "sya'irah" (biji gandum) di dalam hadits ini adalah untuk menunjukkan bahwa iman, meskipun ia kecil, masih dinilai Allah. Orang yang beriman, meskipun imannya tipis, ia masih memiliki kesempatan dikeluarkan Allah dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga. Kecil atau tipisnya iman bukan berbeda dengan hilang atau rusaknya iman. 

Di dalam Fathul Bari', Ibnu Hajar Al Asqalani mengutip perkataan Ibnu Bathal : "Perbedaan tingkat keyakinan manusia disebabkan karena perbedaan tingkat keilmuan dan kebodohan seseorang. Orang yang keilmuannya rendah, maka tingkat keyakinannya sebesar dzarrah. Sedangkan orang yang tingkat keilmuannya lebih tinggi, maka tingkat keyakinannya sebesar burrah atau sya'ir. Meskipun demikian, dasar keyakinan yang terdapat dalam hati seseorang tidak boleh berkurang, bahkan harus bertambah dengan bertambahnya ilmu."

Ibnu Hajar juga menambahkan penjelasan dari Ibnu Uyainah bahwa ketaatan seseorang untuk beramal juga mempengaruhi iman. Ketika ia taat maka iman naik, ketika ia bermaksiat berarti imannya turun.

Secara sederhana, untuk menjelaskan tingkatan iman, yang pertama adalah bahwa inti iman itu harus ada terlebih dulu. Dalam istilah Ibnu Bathal itu disebut "dasar iman." Bahwa Allah adalah satu-satunya Rabb yang menciptakan alam semesta dan memeliharanya, sekaligus satu-satunya Ilah yang berhak diibadahi. Dia mengutus Muhammad sebagai Rasulullah dan penutup para Nabi, dengan Al-Qur'an sebagai kitab suci. Meyakini bahwa semua isi Al-Qur'an adalah benar, adanya para malaikat adalah benar, terjadinya kiamat serta adanya hari kiamat hingga surga dan neraka adalah benar. Keyakinan-keyakinan itu sebagai dasar iman tidak boleh terkikis. Kalau sampai tidak mempercayai, maka hilanglah imannya. 

Jika ia meyakini dasar-dasar iman itu, artinya ia memiliki iman. Tinggal tingkatan iman tersebut apakah tinggi apakah rendah. Besar atau kecil. Jika rendah/kecil, apakah paling kecil seperti dzarrah, atau agak besar lagi burrah, atau agak besar lagi sya'irah. Semuanya itu tergantung pada keilmuan dan komitmen amal. Saat ia yakin berzina itu dilarang, ia sesungguhnya masih beriman. Namun dalam kondisi itu ternyata ia tetap berzina karena tidak mampu menundukkan syahwatnya, imannya tidak hilang tetapi jatuh dan berkurang tajam, hingga mungkin mencapai tingkatan dzarrah. Ini salah satu contohnya.

وَيَخْرُجُ مِنَ النَّارِ مَنْ قَالَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ ، وَفِى قَلْبِهِ وَزْنُ بُرَّةٍ مِنْ خَيْرٍ
Dan akan dikeluarkan dari neraka orang yang mengucapkan laa ilaaha illallah dan dalam hatinya ada kebaikan (iman) seberat burrah

Jika sya'irah adalah biji gandum, burrah adalah biji gandum yang lebih kecil lagi. Ini untuk memudahkan manusia memahami bahwa meskipun iman itu telah mengecil seperti ini, Allah tetap maha penyayang akan mengeluarkannya dari neraka.

وَيَخْرُجُ مِنَ النَّارِ مَنْ قَالَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ ، وَفِى قَلْبِهِ وَزْنُ ذَرَّةٍ مِنْ خَيْرٍ
Dan akan dikeluarkan dari neraka orang yang mengucapkan laa ilaaha illallah dan dalam hatinya ada kebaikan (iman) seberat dzarrah
Dzarrah, dipahami para ulama sebagai benda terkecil. Dulu, dzarrah itu disebut sebagai biji sawi, namun saat ini ia bisa disebut sebagai atom atau elektron. Yang intinya, dzarrah adalah partikel terkecil yang ada di dunia. Lagi-lagi, meskipun iman sampai pada tingkat teramat sangat kecil seperti ini, Allah masih mengasihi orang beriman dengan mengeluarkannya dari neraka dan akan memasukkannya ke dalam surga. Karena itulah, sesungguhnya amat merugi orang yang tidak beriman. Sebaliknya, nikmat yang paling besar adalah nikmat iman.

Pelajaran Hadits
Pelajaran yang bisa diambil dari hadits ini diantaranya adalah:
1. Iman itu bisa bertambah dan berkurang;
2. Iman setiap orang berbeda-beda, ada yang kuat ada yang lemah, ada yang besar ada yang kecil, yang kecil pun bisa setingkat sya'irah (biji gandum), burrah (biji gandum yang lebih kecil lagi), bahkan dzarrah (partikel terkecil);
3. Iman, seberapapun kecilnya, dengan rahmat Allah ia akan menjadi penyelamat dari neraka dan menjadi kunci masuk surga;
4. Allah Maha Rahim, sangat penyayang kepada hambaNya yang beriman;
5. Hendaklah kita menjaga iman kita, mempertahankannya agar tidak lepas atau hilang sama sekali

Demikian hadits ke-44 Shahih Bukhari dan penjelasannya. Semoga kita mendapatkan taufiq dari Allah SWT untuk senantiasa menjaga iman kita dan terus berusaha meningkatkannya. Wallaahu a'lam bish shawab.[]

sumber : http://www.bersamadakwah.com/2013/02/hadits-44-mukmin-pasti-masuk-surga.html

Kamis, 10 April 2014

Hadits Bukhori ke 43 "Amal yang Paling Dicintai Allah"

Alhamdulillah, kita kembali bertemu dalam rubrik Hadits yang kini memasuki pembahasan hadits ke-43 dalam Shahih Bukhari.

Karena hadits ini membahas tentang dilarangnya beribadah yang memaksakan diri dan perintah untuk mengerjakan amal semampunya agar bisa istiqomah, maka hadits ke-43 ini kita beri judul: Amal yang Paling Dicintai Allah.

Berikut ini matan (redaksi) hadits Shahih Bukhari ke-43:

عَنْ عَائِشَةَ أَنَّ النَّبِىَّ - صلى الله عليه وسلم - دَخَلَ عَلَيْهَا وَعِنْدَهَا امْرَأَةٌ قَالَ مَنْ هَذِهِ . قَالَتْ فُلاَنَةُ . تَذْكُرُ مِنْ صَلاَتِهَا . قَالَ مَهْ ، عَلَيْكُمْ بِمَا تُطِيقُونَ ، فَوَاللَّهِ لاَ يَمَلُّ اللَّهُ حَتَّى تَمَلُّوا . وَكَانَ أَحَبَّ الدِّينِ إِلَيْهِ مَا دَامَ عَلَيْهِ صَاحِبُهُ
Dari Aisyah radhiyallahu anha, bahwa pada suatu hari ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pulang ke rumah Aisyah,beliau melihat ada seorang wanita di dekatnya. Lalu Nabi bertanya, “siapakah wanita itu?” Aisyah menjawab,”inilah si Fulanah yang terkenal banyak melakukan shalat.” Kemudian Nabi bersabda, “Jangan begitu! Tetapi kerjakanlah semampumu. Demi Allah, Dia tidak bosan untuk memberikan pahala hingga kamu sendiri yang malas beramal. Agama yang paling disukai Allah adalah yang dilakukan secara tetap dan teratur.

Penjelasan Hadits

دَخَلَ عَلَيْهَا وَعِنْدَهَا امْرَأَةٌ
beliau melihat ada seorang wanita di dekatnya.

Ibnu Hajar Al Asqalani, setelah mengetengahkan sejumlah riwayat dan pendapat mengenai hadits ini, beliau menegaskan bahwa wanita yang diceritakan dalam hadits ini semula berada di rumah Aisyah. Ketika beliau tiba di rumah Aisyah, wanita ini pulang dan sebelum meninggalkan kediaman Aisyah, ia sempat bertemu Rasulullah. Setelah ia pergi, Rasulullah pun menanyakan perihal wanita itu.


قَالَ مَنْ هَذِهِ 
Lalu Nabi bertanya, “siapakah wanita itu?” 

Pertanyaan Rasulullah ini menunjukkan bahwa beliau tidak mengenal wanita itu, atau kurang jelas siapa yang barusan datang menemui Aisyah. Kemungkinan kedua lebih besar karena dalam riwayat yang lain, khususnya Muslim dari Zuhri dari Urwah, wanita tersebut adalah Al Haula binti Tuwait bin Habib Asad bin Abdul Izzi, yang termasuk keluarga Khadijah radhiyallahu 'anha.


قَالَتْ فُلاَنَةُ . تَذْكُرُ مِنْ صَلاَتِهَا
Aisyah menjawab,”inilah si Fulanah yang terkenal banyak melakukan shalat.” 

Aisyah menjawab dengan menyebutkan keutamaan wanita itu menurut banyak orang, yakni banyaknya shalat yang ia lakukan. Bahkan, disebutkan bahwa wanita itu shalat sepanjang malam dan tidak tidur.


قَالَ مَهْ ، عَلَيْكُمْ بِمَا تُطِيقُونَ ، فَوَاللَّهِ لاَ يَمَلُّ اللَّهُ حَتَّى تَمَلُّوا
Kemudian Nabi bersabda, “Jangan begitu! Tetapi kerjakanlah semampumu. Demi Allah, Dia tidak bosan untuk memberikan pahala hingga kamu sendiri yang malas beramal. 
Kata "mah" (jangan begitu), merupakan teguran Rasulullah kepada Aisyah dengan maksud melarangnya agar tidak memuji wanita itu dan agar tidak melakukan perbuatan seperti itu. 

Rasulullah memerintahkan agar Aisyah dan juga seluruh umatnya untuk mengerjakan amal sesuai kemampuan mereka, yang dapat dilakukan secara terus menerus. Tidak memaksakan diri dengan amal berat yang bisa saja dilakukannya beberapa kali tetapi setelah itu terputus dan tidak dapat diteruskan lagi.

Kata "wallaahi"(demi Allah) yang diucapkan Rasulullah menunjukkan bahwa bolehnya bersumpah tanpa diminta, bahkan ia menjadi sunnah jika dilakukan dalam rangka menegaskan dan memotivasi orang lain untuk mengerjakan perintah Allah.

Kata "malal" adalah majaz (kata kiasan) yang digunakan untuk menunjukkan bahwa Allah memutuskan pahala bagi orang yang bosan beribadah. 


وَكَانَ أَحَبَّ الدِّينِ إِلَيْهِ مَا دَامَ عَلَيْهِ صَاحِبُهُ
Agama yang paling disukai Allah adalah yang dilakukan secara tetap dan teratur.

Di sinilah kata "Din" (agama) bermakna amal, yang menunjukkan bahwa amal adalah bagian dari iman. Dan amal yang paling dicintai Allah adalah yang kontinyu dan istiqamah. Banyak hadits yang senada dengan hadits ini, bahwa amal yang paling dicintai Allah adalah amal yang terus menerus, kontinyu, istiqamah.

Pelajaran Hadits
Pelajaran yang bisa diambil dari hadits ini diantaranya adalah:
1. Memaksakan diri dalam beribadah sunnah adalah tercela
2. Tidak boleh memuji dan meniru orang yang menyelisihi Qur'an dan hadits Nabi
3. Hendaknya mengerjakan ibadah sesuai kemampuan agar amal ibadah tersebut bisa dijalankan secara kontinyu alias terus menerus
4. Amal yang paling dicintai Allah adalah amal yang dikerjakan secara kontinyu serta terus menerus.

Demikian hadits ke-43 Shahih Bukhari beserta penjelasannya. Semoga kita mendapat taufiq dari Allah sehingga mampu mengerjakan amal-amal yang kontinyu alias terus menerus. Wallaahu a'lam bish shawab.[]

sumber : http://www.bersamadakwah.com/2012/10/hadits-43-amal-yang-paling-dicintai.html

Rabu, 09 April 2014

Hadits Bukhori ke 42 "Pahala Kebaikan Dilipatgandakan 10 hingga 700 Kali Lipat"

Alhamdulillah, pembahasan hadits Shahih Bukhari bisa hadir lagi menyapa pembaca. Kini memasuki hadits ke-42, masih berada di bawah Kitab Al-Iman (كتاب الإيمان).

Imam Bukhari tidak memberikan judul tersendiri pada hadits ini, melainkan mengikuti judul pada hadits sebelumnya yaitu باب حُسْنِ إِسْلاَمِ الْمَرْءِ (kebaikan Islam seseorang). Untuk memudahkan pembahasan, hadits ke-42 ini kita beri judul: "Pahala Kebaikan Dilipatgandakan 10 hingga 700 Kali Lipat"

Berikut ini matan (redaksi) hadits Shahih Bukhari ke-42:

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ - صلى الله عليه وسلم - إِذَا أَحْسَنَ أَحَدُكُمْ إِسْلاَمَهُ ، فَكُلُّ حَسَنَةٍ يَعْمَلُهَا تُكْتَبُ لَهُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا إِلَى سَبْعِمِائَةِ ضِعْفٍ ، وَكُلُّ سَيِّئَةٍ يَعْمَلُهَا تُكْتَبُ لَهُ بِمِثْلِهَا
Dari Abu Hurairah r.a., bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Jika seseorang memperbagus keislamannya, maka setiap kebaikan yang dilakukannya dituliskan 10 hingga 700 kali lipat, sedangkan setiap kejelekannya hanya ditulis sepertinya (satu saja)"

Penjelasan Hadits

إِذَا أَحْسَنَ أَحَدُكُمْ إِسْلاَمَهُ
Jika seseorang memperbagus keislamannya

Hadits ini menggunakan lafadz jamak "ahadukum" karena ditujukan kepada para banyak sahabat yang saat itu mendengarkan hadits beliau, namun maknanya tetap berlaku bagi setiap pribadi. Artinya, siapapun orangnya asalkan memenuhi syarat ini maka ia akan mendapatkan pelipatgandaan amal kebaikan seperti dijelaskan dalam lanjutan hadits ini.

Makna memperbagus keislamannya adalah teguh di atas Islam yang ia ikrarkan dengan syahadat dan berkomitmen dengan ajaran-Nya. 

فَكُلُّ حَسَنَةٍ يَعْمَلُهَا تُكْتَبُ لَهُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا إِلَى سَبْعِمِائَةِ ضِعْفٍ
maka setiap kebaikan yang dilakukannya dituliskan 10 hingga 700 kali lipat

Inilah kasih sayang Allah yang diberikan untuk hambaNya yang muslim. Asalkan ia beriman, asalkan ia Muslim yang berkomitmen dengan keislamannya, setiap amal kebaikannya dilipatgandakan 10 hingga 700 kali lipat. 

وَكُلُّ سَيِّئَةٍ يَعْمَلُهَا تُكْتَبُ لَهُ بِمِثْلِهَا
sedangkan setiap kejelekannya hanya ditulis sepertinya (satu saja)

Berbeda dengan amal kebaikan yang dilipatgandakan, amal buruk yang dikerjakannya hanya ditulis satu saja. Bahkan dalam hadits sebelumnya disebutkan "kecuali jika Allah memaafkannya." Artinya, jika amal buruk itu diamaafkan Allah, ia bahkan tidak ditulis sama sekali.

Dengan rahmat Allah inilah, sungguh pintu surga dibuka seluas-luasnya bagi muslim. Allah memberinya peluang besar agar catatan amal kebaikannya bertumpuk-tumpuk, sementara catatan amal kejelekannya hanya sedikit, bahkan tertutupi oleh amal kebaikannya.

Pelajaran Hadits
Pelajaran yang bisa diambil dari hadits ini diantaranya adalah:
1. Seorang muslim hendaklah memperbagus keislamannya, yakni dengan tetap teguh di atas Islamnya dan berkomitmen dengan ajaranNya;
2. Bagi muslim yang demikian, Allah melipatgandakan catatan amal kebaikannya menjadi 10 hingga 700 kali lipat;
3. Amal kejelekan seorang muslim hanya dicatat seperti apa yang ia lakukan, tanpa dilipatgandakan;
4. Hadits ini menunjukkan betapa besarnya kasih sayang Allah kepada orang-orang yang beriman.

Demikian hadits ke-42 Shahih Bukhari dan penjelasannya. Semoga kita mendapatkan taufiq dari Allah SWT untuk senantiasa memperbaiki keislaman kita, memperbanyak amal kebaikan dan menjauhi amal kejelekan. Wallaahu a'lam bish shawab.[]

sumber : http://www.bersamadakwah.com/2012/09/hadits-42-pahala-kebaikan.html